RENUNGAN MAZMUR 36:10-11 Awas jangan sampai Off-Line!

903 viewers

RENUNGAN MAZMUR 36:10-11

Awas jangan sampai Off-Line!

“Sebab padaMu ada sumber hayat, di dalam terangMu kami melihat terang. Lanjutkanlah kasih setiaMu bagi orang yang mengenal Engkau dan keadilanMu bagi orang yang tulus hati”.

Apa yang anda bayangkan sebagai sumber hayat? Hayat artinya hidup atau nyawa, menurut terjemahan bahasa aslinya hidup secara biologis. Jika kita mengakui bahwa Allah adalah sumber hayat, maka seluruh makhluk yang bernyawa di dunia ini termasuk tubuh kita bersumber pada Allah.

Semua manusia menginginkan hidup, bahkan ia pasti rela berjuang keras untuk mempertahankan hidupnya. Ketika seseorang di vonis kanker , tidak semudah itu ia akan menyerah untuk berhenti hidup, walaupun banyak juga orang yang menyerah dan mengakhiri hidupnya karena putus asa. Namun kebanyakan manusia akan berusaha mempertahankan hidupnya. Ia akan mencari cara berobat yang tepat agar bisa bertahan hidup terhadap serangan kanker.

Manusia ingin hidup karena Allah memang memberinya  hidup. Kejadian 2:7 mencatat: “ketika itulah  TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu mejadi makhluk yang hidup”.  Dengan demikian hidup manusia tak mungkin lepas dari Sang Pemilik Hidup itu sendiri.

Namun Pemberi Hidup itu, tidak selalu kita ingat. Kita lebih sering menjalani hidup sehari-hari secara otomatis. Pekerjaan, dan segala kegiatan dalam agenda kita sepertinya lebih menyita perhatian, itu memang memerlukan tanggung jawab.

Pemazmur sedang berbicara kepada Allah dan ia menyebut Allah sebagai “sumber hayat”. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari tertulis :”Karena Engkaulah sumber hidup”. Ia menyadari betul bahwa tanpa Allah dia pasti kehilangan hidup, seperti air akan kering jika sumbernya kering. Orang seperti Daud, pemazmur, tak mungkin bisa melupakan Sumber Hayatnya, karena dia percaya bahwa setiap hari dia makan dan minum dari Allahnya. Tanpa Allah dia tidak akan makan maupun minum. Jadi kelangsungan hidupnya dipercayai hanya karena Allah.

Kemudian ayat itu dilanjutkan :”Terang kami berasal dari Terang-Mu”. Tuhan itu sumber hidup dan Ia juga sumber Terang. Pada masa hidup-Nya Yesus Kristus berkata:”Akulah jalan, kebenaran dan hidup (Yohanes 14:6). Makna hidup di sini bukan sekedar bernyawa, tetapi hidup yang beresensi, beretika serta bermoral.

Yesus juga berkata :”Akulah Terang dunia” (Yohanes 8:12). Terang akan mengingatkan  kita pada gelap. Apakah anda pernah berada dalam kegelapan yang pekat, tanpa sinar secercah pun? Apa yang dirasakan ketika ada dalam gelap? Pasti rasa takut dan tidak nyaman karena tidak dapat melihat apa-apa.

Daud dalam Mazmur ini sedang meratapi kejahatan manusia, yang tercatat di ayat 1-5 dari pasal ini. Orang jahat itu tidak punya rasa takut akan Allah, mulutnya penuh tipu daya, dan tempat tidurnya dipakai untuk merancang kejahatan. Setelah ia melihat orang-orang durhaka, ia kemudian mengarahkan pandangannya ke atas, tempat Allah berada, dan sirnalah kegalauan hatinya akibat mellihat perbuatan orang fasik.

Daud begitu  memuja TUHAN, dalam ayat 6 dari pasal ini ia berkata :” Ya TUHAN  kasih-Mu sampai ke langit, setia-Mu sampai ke awan”. Daud ingin mengungkapkan kekagumannya akan kasih Tuhan yang begitu besar dan tak terukur oleh manusia. Mengapa sampai demikian? Karena Daud bergaul karib dengan Tuhan, dia punya keterikatan yang sungguh dengan Tuhannya. Koneksinya dengan Tuhan tidak pernah “off-line” Karena ia tahu ketika koneksinya terputus dengan Tuhan ia akan mengalami kegelapan, dan kehilangan makna hidup.

Hidup rohani yang “off-line” adalah ketika kita hanya mengingat hidup tanpa kaitan dengan Pemberi Hidup dan menurunnya kebergantungan kita kepada Allah. Sama dengan ketika gadget atau komputer kita terputus dengan sambungan internet. Tidak terkoneksi berarti tidak ada suara, berita atau perintah dan peringatan apa pun yang perlu kita dapat dari internet. Dan kita pun terhilang.

Rutinitas kehidupan bisa memutuskan koneksi dengan Tuhan, seakan-akan kita tidak lagi perlu dengan Dia, Dia tidak perlu lagi mengatur hidup kita, karena semua sudah berjalan otomatis. Rutinitas kehidupan kita anggap lebih terbantu kalau “on-line” dengan internet. Tanpa itu baru lah semua putus.

Seperti ketika kita terputus dengan internet, koneksi dengan Allah bisa putus. Tanpa koneksi dengan Allah gairah dan hasrat kita akan Dia akan hilang. Allah lah sumber Terang. Terputus dengan Allah berarti kita juga akan mengalami kegelapan. Pikiran, perbuatan dan kesukaan kita adalah melakukan hal-hal yang tidak benar, fasik dan jahat.

Daud melihat orang-orang fasik yang begitu jahat, “rasa takut akan Allah tidak ada pada orang itu” (ayat 1). Orang-orang jahat yang dilihatnya adalah mereka yang tidak punya koneksi dengan Allah. Mereka hidup “off-line” terhadap Allah,  dan  karenanya suka melakukan kejahatan, tanpa mengerti kebenaran.

Baru saja beberapa hari dunia maya dipenuhi dengan berita seorang gay dari Indonesia yang memperkosa 190 pria di dalam apartement nya. Seorang istri tega membunuh suaminya bersama selingkuhannya. Itu hanya dua contoh peristiwa kegelapan. Terlalu banyak yang terjadi setiap hari di sekitar kita kejahatan yang keji.

Saudara, kita perlu Allah, sebab itu jangan sampai “off-line” dengan Dia. Tanpa Dia kita akan kehilangan Hidup dan Terang. Tanpa Dia kita tidak bisa hidup dalam pengertian dan kebenaran. Mazmur 49:20:”Manusia, yang dengan segala kegemilangannya tidak mempunyai pengertian boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan”.

Kita hanya bisa meminta agar Allah melanjutkan setiaNya dalam koneksi yang baik dan tak pernah putus dengan Dia. Amin

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Silahkan login untuk memberikan komentar.