Pelayanan Anak GMII Kasih Karunia Medan (Gereja Misi Injili Indonesia)

484 viewers

Pelayanan Anak

GMII Kasih Karunia Medan

(Gereja Misi Injili Indonesia)

Tanggal 8 September 2019

 

Wawancara ini dilakukan dengan guru senior Sekolah Minggu GMII Kasih Karunia Medan pada Ibu Rifa. Beliau berjemaat di GMII sejak tahun 2001, hingga kini sudah sekitar 18 tahun menjadi jemaat.

Ibu Rifa mulai mengajar Sekolah Minggu sejak tahun 2006, sudah 13 tahun pada saat wawancara ini dilakukan.  Untuk mengajar Sekolah Minggu beliau juga menempuh tahap belajar, yaitu melalui pendidikan khusus atau kursus atau seminar yang bertopik pendidikan anak.  Hal ini memberi pemahaman kepada kita bahwa untuk menjadi guru Sekolah Minggu pun seseorang perlu dibekali dengan pelatihan dan pendidikan yang menunjang.

 

Ada 15 orang yang sekarang mengajar Sekolah Minggu di berbagai tingkat usia,  kelas Batita, Kecil, Tengah, Besar dan Tunas Remaja. Yang usia di atas remaja masuk ke pemuda. Pembagian kelas menurut usia ini  sudah dilakukan sejak awal pembentukan gereja.

“Saya mulai dari kelas batita. Awalnya saya mendampingi anak-anak Batita dalam kelas, setelah itu baru mengajar. Di training dulu bu…,” demikian tutur bu Rifa.

Jadi, semua guru Sekolah Minggu di training dulu selama  6 bulan

Training dilakukan langsung oleh ibu Pendeta dan selesai training kami di kasih bahan khusus tapi sekarang sudah tidak dipakai lagi. Sebelumnya ada buku panduan untuk mengajar yang disiapkan oleh gereja. Untuk  anak-anak, kami menggunakan SSM (Suara Sekolah Minggu)

 

“Apakah ibu pernah menangani 4 kategori anak Sekolah Minggu ini, termasuk Tunas Remaja?

Yang paling sering itu kelas Batita sampai kelas Tengah. Batita sampai ke Tengah berarti sekitar umur 3 sampai 9 tahun ya? Coba ibu ceritakan bagaimana mengajar Batita, apa kesulitan, apa enaknya?

 

Kalau Batita itu menyenangkan karena mereka lucu-lucu. Disuruh kesaksian mereka maju ke depan, bernyanyi dan bergoyang. Sedangkan kesulitannya itu ketika sedang cerita mereka suka jalan-jalan. Kemudian kalau sudah lewat dari waktu yang sudah ditentukan, mereka sudah tidak fokus lagi. Yang kedua, Anak-anak Batita itu umurnya dibawah 3 tahun. Jadi mereka pasti selalu didampingi orangtuanya.

 

Bagaimana dengan kelas berikutnya? Sekitar umur 5 sampai 7 tahun.

Kelas Kecil. Mereka sangat aktif, tidak bisa diam! Tapi enaknya itu kalau ada bahan cerita yang pas dengan kesukaan mereka, mereka akan benar-benar fokus. Kemudian kelas kecil ini juga suka bertanya dan kritik bila ada guru yang keliru mengajar.

 

Kelas kecil ini fisikya mulai kuat dan banyak ingin tahu. Untuk kelas berikutnya, kelas tengah umur berapa?

 

Untuk kelas Tengah itu mereka itu rata-rata yang sudah bisa membaca, kelas I sampai kelas III SD. Kelas tengah itu beban sekolahnya itu sudah mulai berat, mengerjakan PR, sudah mulai banyak bicara. Mereka sangat bersemangat, berbeda dengan kelas besar yang malu-malu, karena mereka sudah mulai mendekati masa-masa puber. Jadi, gurunya harus aktif.  Guru harus mendekati mereka. Guru yang harus aktif di kelas besar, supaya ada komunikasi 2 arah. Kalau untuk kelas Batita sampai Tengah masih bisa komunikasi 1 arah.  Untuk Kelas Besar, guru harus aktif. Untuk kelas Tunas Remaja mereka itu sudah malu-malu.

 

Berarti guru untuk Tunas Remaja sudah harus punya ilmu yang dipersiapkan lebih dari yang lain. Harus menguasai faktor-faktor kejiwaan, perkembangan keluarga atau pengaruh-pengaruh keluarganya. Bagaimana kesulitannya?

 

Kalau untuk kelas Tunas Remaja, Ibu Rifa kebetulan  belum terlalu banyak pengalaman, karena mengajar mereka pas ada pertukaran kelas saja. Tetapi karena beliau juga pelayanan di Yayasan, jadi saya melihat bahwa untuk remaja seperti mereka itu lebih kepada pendekatan. Sama mereka tidak bisa marah dan langsung menegur atau kritik.

 

Benar, remaja sudah punya prinsip sendiri. Mereka sudah ingin membentengi diri. Pernah ada kasus di Tunas Remaja, mereka berteman 3 orang tapi usianya berbeda. Jadi, kalau sudah SMA harus  naik ke kelas Remaja. Ada yang kelas 3 SMP dia masih di Tunas Remaja tidak mau pindah. Karena ada temannya, makanya tidak mau dipisahkan dari temannya. Ada faktor pertemanan.

Ibu Rifa juga berkegiatan di Yayasan PDPA (Yayasan Penginjilan dan Pengenalan Alkitab. Kegiatannya sama dengan Sekolah Minggu, tapi lebih banyak permainan dan kreativitas

 

 

Demikianlah sekilas wawancara dengan Ibu Rifa dalam kegiatannya dan suka duka mengajar sekolah minggu.

 

 

Tinggalkan Komentar

Silahkan login untuk memberikan komentar.