RENUNGAN IBRANI 6:19 TAK GOYAH DIHEMPAS GELOMBANG

2958 viewers

RENUNGAN

IBRANI 6:19

TAK GOYAH DIHEMPAS GELOMBANG

Hari ini sudah dua minggu kita menghirup udara tahun 2020, dan mungkin juga sudah ada beberapa peristiwa yang terjadi dalam hidup kita.  Ada yang membuat tertawa tapi juga ada yang membuat menangis. Jika ada bayi yang lahir dalam keluarga  itu tentu mendatangkan sukacita, mereka yang menikah tentu merasa bahagia; namun kehilangan anggota keluarga selamanya pasti mendatangkan duka yang dalam, harus menutup usaha karena bangkrut tentu amat menyakitkan.

Ya, semuanya mungkin terjadi, tak ada jaminan untuk menghindari .

Apa yang terjadi di tahun yang lalu bisa terjadi juga di tahun ini, dan apa yang terjadi di tahun ini mungkin terulang juga di tahun mendatang dan seterusnya, semua bergulir berputar.  Tahun boleh baru tapi masalah tetap yang lama, yang itu itu juga.

Peristiwa paling mengerikan di tahun 2019 di negeri kita yang dicatat oleh www.bbc.com  adalah kebakaran hutan (karhutla) yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan. Peristiwa ini adalah kasus yang paling mengerikan yang pernah terjadi sejak tahun 2016 di Indonesia. Sekitar satu juta jiwa menjadi korban; yang meninggal, terserang hispa dan yang harus tinggal di tempat-tempat pengungsian.

Sekarang,  tahun 2020 diawali dengan banjir bandang di Jabotabek, bencana yang tak kalah mengerikan. Banjir telah memporak porandakan seluruh sendi kehidupan manusia, jiwa terhilang, dan kerugian harta yang sangat besar. Dimana-mana banjir menghanyutkan ratusan mobil warga, pool taxi blue bird terendam hingga kap mobil. Tak terbayangkan kerugian yang diderita.

Masih panjang hari yang akan kita jalani ke depan, tiap hari masih misterius. Apa pun mungkin terjadi. Lalu bagaimana kita menghadapinya?

Firman Tuhan pada hari ini berkata: Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir.

Apa hubungannya hidup dengan pengharapan dan sauh? Apa pula hubungan nya dengan peristiwa peristiwa yang akan terjadi di sekitar kita? Saudara, mari kita sejenak belajar dari Alkitab, buku yang menjadi kitab suci kita.

Alkitab adalah sebuah penjabaran panjang dari rangkaian sejarah manusia. Alkitab tidak berbicara hanya hari hari yang dilalui seorang manusia sepanjang umurnya saja. Ia berbicara tentang kehidupan kekal hingga kekal. Itu berarti kalau kita membaca Alkitab kita dibawa kedalam  alam yang tidak mengenal waktu. Hitungan waktu menurut manusia di dunia adalah: detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun dan seterusnya. Namun di dalam dunia kekal semua satuan waktu itu tidak berlaku.

Memang Alkitab bercerita tentang banyak kisah manusia, namun kisah-kisah itu tersusun dalam garis yang tak putus hanya untuk dunia nyata saja, garis yang digambar Alkitab menghubungkan  dunia kekal, dengan dunia nyata, lalu tersambung lagi dengan dunia kekal. Alkitab diawali dengan penciptaan alam semesta dalam Kitab Kejadian, tetapi sebelum Penciptaan alam semesta sudah ada kehidupan yang kekal.

Dalam Kejadian 1:1 dikatakan “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”. Dalam bahasa aslinya kata menciptakan ditulis memakai kata “bara”, yang artinya menciptakan atau membuat sesuatu dari yang tidak ada. Allah tidak memerlukan bahan baku untuk menciptakan semesta alam. Allah pun tidak ada yang menciptakan, Dia ada secara kekal, tak ada hitungan waktu untuk Allah.

Manusia dengan alam pikirannya yang begitu terbatas oleh ruang dan waktu dipastikan tidak dapat menalar, merasakan, melihat, atau menghitung kekekalan.

Lalu di mana kah posisi kita ketika kita hidup di dunia ini? Ketika kita merasakan pahit getirnya kehidupan, ketika kita merasakan kesakitan, ketika kita mengalami bencana alam?

Jawabnya, kita ada di alam ruang waktu, kita ada dalam kefanaan, dalam kesementaraan. Berapa ribu bahkan berapa juta tahun pun umur dunia ini, itu tetap dalam dimensi kesementaraan.  Di dunia ini kita lahir, bekerja keras setiap hari, bertambah tua, mengalami penyakit, dankemudian kita meninggal dunia. Lalu selesai? Tidak! Kalau tidak selesai kemana kah kita setelah itu?

Dalam Yohanes 11:25 Yesus mengatakan: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,” Dalam bahasa aslinya “mati” adalah “ap-oth-nace-ko” artinya kematian jasmaniah.  Yesus menjamin orang yang mati jasmaniah akan hidup lagi jika ia percaya kepadaNya. Jadi hidup kita tidak berakhir pada kematian jasmaniah. Hidup kita tidak habis. Setelah mati kita akan menyambung kehidupan dalam kekekalan. Kepada siapakah Tuhan Yesus berjanji? Kepada yang percaya padaNya. Jadi janji ini tidak diberikan kepada semua orang. Ini perlu kita pahami.

Saudara yang dikasihi Tuhan,

Entahkah kita hidup bergelimang kebahagiaan dan harta, entahkah kita hidup selalu berkekurangan, kita hidup dalam nestapa dan menderita berbagai penyakit, badai dan bencana memporakporandakan hidup kita, ingatlah itu semua adalah episode  kesementaraan. Berabad-abad sejak penciptaan alam semesta manusia telah hidup dalam banyak penderitaan. Namun orang yang menyadari bahwa ia sementara sedang hidup dalam kefanaan, tidak akan melihat penderitaan itu sebagai akhir dari hidupnya. Di titik kehancuran sekali pun, orang percaya tidak akan hancur. Ia akan bisa melewati puing-puing kehancuran itu dan menjalani kehidupan sampai titik akhir bersama Tuhan. Ya syarat nya kita harus berjalan bersama Tuhan Yesus

Sauh dibandingkan dengan kapal tentu ukurannya sangat kecil, tapi bisa menahan kapal yang besar itu agar tidak hanyut terbawa arus. Begitu pun dengan hidup kita. Pengharapan mungkin saja bisa goyah diterpa penderitaan. Namun selama kita percaya bahwa Tuhan Yesus lah yang mengendalikan hidup kita, yang artinya kita punya iman, kita tidak akan hanyut dan kemudian tenggelam karena dipermainkan oleh ombak kehidupan. Pengharapan akan hidup akan tumbuh jika kita punya iman dan menyerahkan diri untuk ditambatkan kepada  Tuhan.

Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, begitu kata Firman Tuhan. Makna tabir dalam Ibadah Perjanjian Lama adalah pembatas dalam Kemah Suci, menutupi  Ruang Maha Kudus yang di dalamnya terdapat Tabut Perjanjian Allah. Ruang Maha Kudus dipercaya sebagai tempat kemuliaan Allah. Pada jaman Perjanjian Baru ketika Tuhan Yesus mati di salib tabir ini terbelah dua dari atas sampai ke bawah (tertulis dalam Matius 27:51). Maknanya adalah tidak ada lagi pembatas bagi manusia untuk mencapai Allahnya. Pembatas itu telah di koyak oleh Allah sendiri, dan manusia diberi jalan langsung untuk masuk kedalam kekekalan melalui kematian Tuhan Yesus.

Saudara yang terkasih,

Dalam penderitaan apa pun tetaplah berpengharapan . Karena pengharapan kita tertambat oleh sauh yang kuat kepada Allah sang Pencipta, Allah yang kekal, yang tidak dapat dipengaruhi oleh bencana bahkan oleh kematian sekali pun.

Kiranya tahun yang baru ini akan terus kita jalani bersama Tuhan melalui semua pengalaman hidup dan  tidak akan memutuskan pengharapan kita kepada Allah yang kekal. Amin

Tinggalkan Komentar

Silahkan login untuk memberikan komentar.